Recent Posts

Latto-Latto Dari Alat Berburu Menjadi Alat Bermain. Berbahayakah?

2 Januari 2023
Latto-latto

Mendadak latto-latto belakangan ini viral. Permainan jadul dengan dua buah bola kecil padat yang diikat seutas tali ini lagi digandrungi banyak orang, dari anak-anak hingga remaja. 

Mulai happening akhir tahun 2022, permainan ini menjadi trending topik yang tak habis dibahas kalangan netizen, bahkan beredar di sejumlah medsos tutorial cara memainkannya.

Memainkan latto-latto memang terkesan mudah dan sederhana, namun membutuhkan keahlian dan konsentrasi. Cara memainkannya, jari tangan diselipkan pada cincin yang berada di ujung tali. Selanjutnya kedua bola plastik yang menggantung diayunkan secara seimbang ke atas dan ke bawah hingga keduanya beradu.

Bunyi benturan dari kedua bola itu menimbulkan suara yang nyaring. Oleh karena itu, nama permainan ini juga populer dengan sebutan klik klaks sesuai suara yang dihasilkan dari benturan itu.

Baca juga: Undangan dan Souvenir Pernikahan Kami dari Barang Bekas Loch!

Tinjauan literatur mengungkapkan, latto-latto  pernah digandrungi anak-anak di Amerika Serikat dan Eropa tahun 1970-an. Mereka menyebutnya clackers.

Masuk ke Indonesia awal 1970-an, clackers disebut nok-nok. Sementara orang Bugis menyebutnya latto-latto yang berarti bunyi yang dikeluarkan dari dua benda yang berbenturan.
 
Menurut Christopher Byrne dalam Toy Time! From Hula Hoops to He-Man to Hungry Hungry Hippos: A Look Back at The Most-Beloved Toys of Decades Past, latto-latto mulanya dikembangkan sebagai senjata berburu hewan kecil.
"Clackers were one of those toys originally developed as a weapon (along with yo-yos and boomerangs). Its original use was to knock out small animals while hunting."
Sementara itu, Lawrence D. Kaplan, professor of linguistics and director of the Alaska Native Language Center at University of Alaska Fairbanks, menyebutkan sejumlah nama lain dari permainan ini yang disesuaikan dengan jumlah bola yang dipasang.

Latto-latto dengan satu bola disebut perdida (lost one), dengan dua bola disebut avestrucera o nanducera (pemburu burung unta), dengan  tiga bola disebut boleadora, dan dengan empat atau lebih bola dikenal dengan nama Eskimo Ka-Lum-Ik-Toun.

Clackers

Meski populer di kalangan anak-anak, latto-latto nyatanya tak sepenuhnya mendapat respon yang baik dari sejumlah orang dewasa, khususnya kalangan pendidik.

Penyebabnya selain bersuara berisik, tak jarang anak-anak cedera karena terlalu kencang mengayunkan bolanya. Sehingga banyak sekolah kemudian melarang anak-anak muridnya membawa latto-latto ke sekolah.

Bahkan di negara asalnya sendiri, Amerika Serikat, permainan ini sempat dilarang diperjualbelikan. Menurut David Mansour dalam From Abba to Zoom, A Pop Culture Encyclopedia of the Late 20 th Century, pada 1971 latto-latto mulai dilarang setelah pemerintah mengeluarkan peringatan karena bola pada permainan ini diduga dapat pecah dan serpihannya  dapat melukai anak-anak.
 
Pada 12 Februari 1971, empat anak di AS mengalami cedera akibat latto-latto. Food and Drug Administration pun kemudian melakukan penyelidikan terkait keamanan permainan ini. 
 
Badan itu menguji perusahaan pembuat latto-latto untuk menentukan kecepatan dan potensi pecah sebelum melarang. Setelah larangan muncul, larangan ini menarik perhatian komunitas Society for the Prevention of Blindness untuk juga ikut menentang beredarnya permainan yang berpotensi merusak serta membutakan mata.
 
Belum lama beredar di medsos yang  diunggah oleh pengguna TikTok @issey16, latto-latto  menyebabkan seorang anak mengalami benjol di dahinya karena terhantam benturan keras kedua bolanya.

Dibalik keasikan permainan latto-latto, ternyata memiliki sejumlah bahaya dari mainan dengan dua pendulum ini yang tentunya perlu diwaspadai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar